Sama halnya dengan berkarir di ranah olahraga tradisional, kontrak pemain juga termasuk sebagai sebuah kebutuhan utama bagi para atlet esports, termasuk juga perlindungan hukum untuk organisasinya. Akan tetapi, sebelum membuatnya, apa saja yang perlu disiapkan oleh pemain ataupun tim untuk menyusun kontrak tersebut? Apa saja ruang lingkup kontrak tersebut? Mari kita dengar dari Chris Paget, seorang pengacara esports dari Sheridans (Inggris).

Chris Paget via lawinsport.com
Chris Paget via lawinsport.com

Apa saja hal yang harus dipertimbangkan oleh organisasi esports ketika menyusun kontrak pemain?

Apa yang tertulis di kontrak tentunya didasarkan oleh kondisi tim dan pemain, serta kompetisi yang akan diikuti. Namun, ada beberapa poin yang juga harus diperhatikan:

  • Keadilan dan penegakkannya

Tidak ada gunanya memiliki kontrak yang panjang lebar dan rumit jika pemainnya tidak mengerti. Kontrak tersebut bisa saja tidak dipenuhi. Sebaiknya, kontrak tersebut juga memiliki bab executive summary untuk memudahkan para pihak yang terlibat dalam memahami istilah-istilah dalam kontrak.

Usia adalah sebuah hal yang harus dipikirkan secara matang ketika sedang mencari atlet. Jika usia pemain di bawah 18 tahun, maka kontrak tersebut tidak bisa ditegakkan terhadap individu di bawah umur itu, sehingga mau tidak mau harus melibatkan orangtua atau legal guardian-nya. Merekalah yang akan menandatangani kontrak tersebut, hingga individu tersebut berusia 18 tahun.

Perjanjian tersebut juga harus memenuhi ambang batas minimum hukum untuk dapat mengikat kontrak tersebut secara sah. Pada umumnya, harus mencakup: penawaran, persetujuan terhadap penawaran, konsiderasi, kemauan untuk membuat hubungan yang legal, dan kepastian perjanjian.

  • Hubungan antar pihak

Perjanjian tersebut harus secara jelas menuliskan dasar atau landasan dari kontrak. Apakah hubungannya hanya sebatas hubungan pekerjaan (employment relationship), atau atlet tersebut hanya memberikan jasa atau layanannya pada waktu tertentu layaknya jasa konsultan/kontraktor?

Meskipun terkadang perjanjian ini tidak begitu determinatif (bisa aja ternyata ada sebuah argumen di dalam kontrak yang menyatakan bawah landasan hubungan ini adalah employment relationship). Jika organisasi esports tersebut telah mengetahui apa yang mereka inginkan dengan kontrak pemain tersebut (misalkan sebagai kontraktor, bukan karyawan), maka kontrak tersebut dapat disusun sedemikian rupa untuk mengurangi tingkat resiko yang bisa terjadi.

Tertulisnya hubungan antara organisasi dengan atletnya akan memiliki konsekuensi lain, seperti: kewajiban pajak, hak karyawan serta hak untuk pensiun.

  • Eksklusivitas

Apakah pemain yang terikat dengan kontrak tersebut bersifat eksklusif (pemain tersebut tidak boleh tergabung dengan organisasi lain) atau non-eksklusif?

  • Pembayaran

Bagaimana cara organisasi membayar pemain? Apakah ada pemberian bonus atau sistem remunerasi seperti profit share? Kapan bonus tersebut diberikan? Pengeluaran pemain apa saja yang akan di-reimburse oleh perusahaan? Keuntungan apa saja yang diterima pemain?

  • Kewajiban tiap pihak

Kontrak yang dibuat harus secara jelas menyatakan apa saja kewajiban tiap pihak, bagaimana cara memenuhi kewajiban tersebut, dan kapan kewajiban tersebut harus dijalankan. Misalnya, seorang pemain harus melakukan upaya terbaiknya ketika sedang berkompetisi, selalu memakai pakaian tim ketika sedang on-duty, dan mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh organisasi tim. Kontrak tersebut juga harus menyatakan apa konsekuensi yang didapat jika gagal memenuhi kewajiban tersebut.

  • Pembatasan dan perlindungan

Apakah akan ada batasan atau pelarangan yang ditetapkan pada pemain? Misalnya, apakah pemain boleh terlibat dengan aktivitas personal endorsement yang biasanya juga mengikat dengan perjanjian dengan pihak lain, yang mungkin saja bisa berkontradiksi dengan perjanjian awal pemain dengan organisasi.

Ada juga kemungkinan untuk mencantumkan post-term restrictions, meskipun hal ini tentu saja kembali lagi ke jenis perjanjian awal yang dibuat.

Apakah perlu untuk memiliki pasal yang meregulasi tentang proses buy-out atau release clause (ketentuan untuk merekrut pemain yang sedang berada dalam kontrak)? Ini adalah sebuah pasal yang meregulasi agar pihak yang terlibat untuk melunasi semua kewajibannya sebelum pihak tersebut dapat dibebaskan dari kontrak. Akan sangat direkomendasikan kepada pemain untuk terlebih dahulu berkonsultasi sebelum mengambil keputusan tersebut.

  • Batasan waktu

Kontrak tersebut juga harus menetapkan kapan kontrak tersebut berakhir. Apakah dapat diakhiri lebih dini? Jika ya, apa saja kondisi untuk mengakhirinya?

  • Intellectual property

Sangat penting pada kontrak untuk membahas hal ini. Siapa pihak yang menjadi pemilik atas properti intelektual tersebut? Apakah ada batasan terhadap penggunaannya? Sebagai contoh, apa hak organisasi untuk menggunakan foto atau rekaman dari pemainnya yang sedang on-duty?

  • Persetujuan hukum dan yurisdiksi

Pada kontrak perjanjian juga harus menyatakan hukum apa yang berlaku untuk kontrak tersebut, dan pengadilan mana yang memiliki kuasa hukum untuk menyelesaikan perselisihan.

Mengapa kontrak itu penting untuk tim?

Ada beberapa alasan mengapa setiap organisasi esports perlu memiliki kontrak dengan pemainnya. Jika kontrak tersebut disusun dengan baik dan benar, maka kontrak tersebut akan benar-benar mengikat secara hukum baik organisasi dan juga pemainnya. Ini adalah hal yang baik untuk kedua belah pihak.

Kontrak ini akan menjadi sebuah perlindungan bagi keduanya.

  • Untuk pemain, ini akan mencakup tentang hak dan kesejahteraannya.
  • Untuk organisasi, pemain merupakan aset terbesarnya (dari keahlian bermain, serta value yang mereka berikan ke organisasi dari sponsorship/ marketing/segi komersil lainnya). Oleh sebab itu, kontrak akan memiliki peran untuk menjaga stabilitas tersebut. Hal ini akan memfasilitasi organisasi untuk membentuk sebuah roster yang stabil sehingga nantinya memiliki kemampuan untuk melakukan fan/public engagement dengan mengandalkan narasi identitas tim beserta pemainnya. Semua ini bisa dicapai dengan bantuan sponsorship atau funding.

Kontrak tersebut secara tidak langsung memberitahukan kepada publik bahwa organisasi ini adalah organisasi yang profesional (jika kontrak tersebut pantas dan adil) yang nantinya menunjukkan sebuah value dari bagaimana organisasi tersebut memperlakukan pemainnya dan juga beroperasi di sisi bisnisnya.

Apa pandangan Anda terhadap pemain di tim amatir yang tidak memiliki gaji, namun mendapat porsi dari pembagian hadiah kemenangan? Haruskah pemain tersebut bermain tanpa kontrak dan mempercayai organisasinya?

Pertanyaan di awal tersebut cukup sulit dijawab karena hal tersebut sangat bergantung pada konteks dan juga situasi dari organisasi. Akan tetapi, mengenai pertanyaan setelahnya, perjanjian informal tersebut haruslah terdokumentasi dengan jelas tanpa ambiguitas dalam bentuk tertulis layaknya sebuah kontrak formal.

Apakah ada saran lain seputar kontrak yang dapat Anda berikan kepada para pemain atau organisasi di industri esports?

Untuk tim, sangat perlu untuk memberi pengakuan kepada para pemainnya bahwa mereka adalah aset yang paling penting. Dengan demikian, para pemain juga dapat memperlakukan organisasi dengan baik.

Untuk para pemain, kalian harus selalu mengerti apa saja hal yang diminta dari kalian dan apa saja implikasi atau konsekuensi yang bisa terjadi. Dalam memahami sebuah kontrak, pastikan kamu mengerti apa yang dimaksudkan dalam kontrak, apa kewajiban kamu, apa hak kamu, dan apa yang bisa/tidak bisa kamu lakukan.


Tulisan ini pertam kali diterbitkan di britishesports.org.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here