Saat ini esports sudah berkembang, dan akan terus berkembang dengan pesat. Hal ini sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Ketenaran esports bahkan telah melampaui popularitas ice hockey dan sedang menyaingi ketenaran olahraga tradisional seperti sepak bola. Namun, hal yang sering terlupakan dalam perbincangan esports adalah atletnya. Pemain sepak bola profesional merupakan contoh atlet yang sangat terlatih. Manajamen klub dapat memerintahkan para pelatih dan penasehat untuk membantu atlet mereka mengatasi permasalah yang ada di dalam maupun di luar lapangan. Jika dibandingkan dengan kehidupan atlet sepak bola, dapat dibilang bahwa atlet esports masih menjalani kehidupan atlet amatir.

Suatu klub sepak bola dapat memerintahkan para pelatih dan penasehat untuk membantu atlet mereka. Jika dibandingkan, atlet esports masih menjalani kehidupan atlet amatir.

Jadwal latihan mingguan, ahli gizi, pelatih mental, fitness trainer, ataupun spesialis lainnya, sama sekali tidak tersedia untuk atlet esports yang paling profesional. Meskipun para investor dan sponsor sudah mencium aroma darah dan mengalirkan lebih banyak uang ke pasar esports, namun pelatihan atlet esports profesional masih tertinggal.

Karir sebagai seorang atlet esports dimulai dan berakhir lebih cepat (dalam kebanyakan kasus) daripada karir atlet olahraga tradisional yang lain. Karir sebagai gamer kompetitif biasanya berakhir di pertengahan usia dua puluhan karena kemampuan otak dan refleks manusia tidak lagi dapat merespon secara intuitif dalam menghadapi serangan cepat dari lawan. Oleh sebab itu, kebanyakan gamer menjadi profesional di usia 17 tahun, atau bahkan lebih muda. Suatu waktu yang singkat untuk belajar menjalani kehidupan layaknya atlet profesional. Fondasi kesuksekan karir bagi seorang gamer terletak pada masa mudanya. Jika seorang gamer ingin mencapai puncak permainan maka mereka harus berinvestasi sejak dini.

Namun pada awal karir mereka di esports, kebanyakan dari mereka masih jauh dari kehidupan atlet profesional apalagi bila dibandingkan dengan para atlet elit dan muda dari olahraga sepak bola. Melalui pendidikan yang sistematis dan adanya sistem yang mendukung, para pemain sepak bola tidak hanya belajar tentang teknik dan taktik bermain, tetapi juga menjalani kehidupan layaknya seorang profesional sejak usia remaja. Hal inilah yang tidak kita temukan di esports. Hanya gamer yang benar-benar bertalentalah yang mampu bangun dari tempat tidur sejak kecil menuju puncak kesuksesan esports.

Berangkat dari permasalahan tersebut, pergerakan baru megenai edukasi esports di sekolah-sekolah di Eropa mulai menarik perhatian. Sejak tahun lalu, sekolah Norwegia Garnes Vidaregåande Skule” di Bergen menawarkan esports sebagai mata pelajaran di sekolah. Jika murid di kelas tradisional memiliki ujian tertulis, maka kelas esports mengevaluasi kemampuan mereka sebagai pemain dalam tim atau kemampuan berkomunikasi serta kinerja mereka dalam menentukan strategi dan taktik dalam permainan. Selain pelatihan gaming, ada juga pelatihan atletis, konseling gizi, dan pelatihan khusus untuk meningkatkan refleks para muridnya. Secara keseluruhan, hal tersebut merupakan projek yang terkenal, dan beberapa sekolah di Sweden sudah menerapkan konsep yang serupa. Rumor mengatakan bahwa sekolah di Amerika Serikat dan Korea Selatan juga mempertimbangkan untuk menawarkan esports sebagai mata pelajaran di sekolah.

Pelatihan dan pendidikan atlet esports dibutuhkan dalam ruang lingkup olahraga profesional.

Institusi pendidikan tingkat perguruan tinggi juga secara perlahan mulai tergabung dalam gerakan memberi pendidikan esports. Contohnya, beberapa universitas di Amerika dan Asia menawarkan beasiswa untuk gamer. Di Inggris, Universitas Standffordshire mengumumkan gelar sarjana baru di bidang esports. Game developer terbesar di Tiongkok, Tencent, baru-baru ini mengumumkan rencananya untuk membangun sebuah kota yang didedikasikan untuk perkembangan esports, yang nantinya akan menjadi tempat berdirinya universitas esports.

Meskipun sekolah dan institusi akademik lainnya sudah mulai menemukan relevansi dari konten gaming dan memasukkannya ke dalam kurikulum, namun pelatihan dan pendidikan atlet esports dalam lingkup olahraga profesional yang sesungguhnya masih tetap diperlukan. Setidaknya di Eropa, anggota klub sepak bola profesional yang masuk ke dalam panggung profesional melalui tim video game FIFA ataupun LoL juga dapat memainkan peran yang penting. Para gamer dapat diuntungkan dari pelatihan dan infrastuktur mereka, serta mendapat keuntungan dari keahlian marketing, sponsor atau bahkan sistem perekrutan mereka. Beberapa klub sudah menawarkan akademi dan kampus untuk melatih anggota mereka. Mengapa tidak melakukan hal yang sama untuk tim esports profesional?

Saat ini perekrutan atlet esports berbakat dilakukan melalui urutan ranking-nya dalam suatu game. Namun, sebuah versi update sederhana pada software game dapat mengubah urutan ranking tersebut dari hari ke hari. Oleh karena itu jangka waktu kontraknya pendek. Gamer biasanya dikontrak tidak lebih dari dua splits dimana nilai fluktuasi yang tinggi dalam suatu tim adalah hal yang normal. Bagi klub sepak bola, sangat penting untuk menemukan atlet bintang masa depan secara dini dan mengikat mereka dengan klub melalui kontrak.

Gamer biasanya dikontrak tidak lebih dari dua splits dimana nilai fluktuasi yang tinggi dalam suatu tim adalah hal yang normal.

Pencarian bakat hanyalah satu sisi koin. Mengembangkan mereka adalah sisi lainnya. Gamer tidak menikmati perencanaan karir yang berstruktur, tidak mengikuti universitas ataupun pelatihan untuk atlet esports junior, dan mereka tidak mendapat keuntungan dari tempat pelatihan di daerah ataupun nasional. Walaupun organisasi esports PENTA Sports asal Jerman sudah mulai membuka akademi esports profesional pertama di Berlin, hal tersebut hanya sebuah langkah awal. Masih diperlukan banyak langkah lainnya.

Meskipun mengaitkan klub sepak bola profesional dengan esports terlihat seperti keadaan win-win, namun masih butuh waktu yang lama agar dapat menguntungkan kedua belah pihak. Satu hal yang harus jelas adalah mem-profesionalkan atlet esports jika mereka ingin mengejar perkembangan pesat industri esports dan memenuhi ekspektasi yang ada. Pendidikan adalah hal yang sangat penting dan utama.


Tulisan ini merupakan artikel terjemahan dari esportsobserver.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here