Esport via unsplash.com
Esport via unsplash.com

Pada 4 Maret lalu, anggota partai sosial demokrat Jerman membuka jalan untuk bergabung dengan pemerintah sebagai junior partner dalam sebuah koalisi besar di bawah Kanselir Angela Merkel. Dengan perkembangan ini, pengakuan esports sebagai olahraga menjadi lebih mungkin, seperti yang ditetapkan dalam kesepakatan koalisi.

Sementara gagasan untuk mengakui esports sebagai olahraga terlihat susah dilobi, dan karenanya, semakin banyak dukungan dalam beberapa tahun terakhir, banyak suara kritis yang tersisa. Termasuk Reinhard Grindel, presiden DFB (Asosiasi Sepakbola Jerman), yang membahas topik tersebut dalam format talk show dengan koran Jerman Weser Kurier.

“Sepak bola adalah rumah bagi rumput hijau dan tidak ada hubungannya dengan hal-hal lain yang dibuat komputer. Bagi saya, esports bukanlah olahraga, “kata Grindel. Seolah-olah itu tidak cukup untuk memicu tanggapan keras dari komunitas esports, Grindel menyebut meningkatnya jumlah waktu yang anak-anak habiskan dengan perangkat mobile “eine absolute Verarmung,” yang secara kasar diterjemahkan menjadi “degenerasi total”.

Dari situlah, Grindel mengkritik lebih jauh. Memberikan esports sebagai “Olympic perspective,” seperti yang direncanakan oleh pemerintahan berikutnya, adalah “absurd,” katanya dan melanjutkan dengan mengatakan: “Saya harap itu tidak terjadi.”

“Saya setuju dengan jalur yang telah koalisi tetapkan, untuk menyetujui status esports sebagai nirlaba, adalah salah,” Grindel menjelaskan. Politisi harus mendukung asosiasi dan membuat janji yang lebih menarik, dan bukan ‘menyediakan tax benefits untuk industri hiburan.’

Komunitas games dan esports jerman cepat bereaksi terhadap pernyataan kuat Grindel. “Olahraga pada umumnya menghadapi proses transisi ke era digital, bukan merupakan degenerasi, tapi hanya sebuah perubahan besar,” Hans Jagnow, presiden Esport Bund Deutschland (ESBD) yang baru terbentuk, menanggapi.

“Klub Bundesliga dan klub olahraga massal lainnya memasuki industri ini dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa adanya perubahan persepsi terhadap esports,” kata Jagnow. “Merupakan halangan untuk menciptakan kompetisi buatan.”

Posisi Grindel dan DFB sangat berbeda dengan sikap DFL (Liga Sepakbola Jerman) dalam menangani masalah ini. Liga tersebut – mewakili kepentingan 36 klub divisi pertama dan kedua – memperkuat kemitraan jangka panjangnya dengan Electronic Arts, meyakinkan sebagian besar klub untuk bergabung dalam Virtual Bundesliga.

Tampaknya, perdebatan tentang apakah esports harus diakui sebagai “olahraga” atau tidak, masih jauh dari selesai.

Dan ketika Grindel ketahuan agak kolot dalam menghadapi teknologi dan dampaknya pada anak-anak (IMHO: pernahkah dia bertanya pada dirinya sendiri apakah itu mungkin lebih merupakan pertanyaan tentang cara mengasuh anak daripada “evil mobile devices“?), seseorang harus mengakui bahwa dia membuat sebuah poin penting dalam hal memberikan tax benefits bagi industri hiburan. Ada alasan mengapa aktivitas utama klub Bundesliga tidak melekat dan terdaftar pada asosiasi nirlaba , tetapi terkait dengan perseroan terbatas dan ditangani sebagai upaya pemasaran.

Sederhananya: esports secara spesifik merupakan industri waralaba, yang terutama berlaku bagi industri-industri utama yang melobi untuk diakui.

Jelas, ada kepentingan utama di kedua sisi perdebatan, yang membuat topik menjadi lebih rumit daripada “apakah esports, olahraga atau tidak?” Grindel dan banyak orang lain  yang menentang gagasan untuk mengkategorikan esports sebagai olahraga juga berjuang untuk melindungi market shares mereka. Dan “apakah esports, olahraga atau tidak?”, akan terjawab dengan atau tanpa pengakuan politik.


Tulisan ini merupakan terjemahan dari esportsobserver dan ditulis oleh .

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here