Electronic Sports League (ESL) dan Intel diperkirakan akan meluncurkan kembali turnamen esports terbesar tahunan mereka di Katowice. Namun beberapa minggu sebelumnya, keduanya telah membuat sejarah dengan cara yang berbeda. Intel Extreme Masters (IEM) PyeongChang secara struktural tidak berbeda dengan turnamen StarCraft II pada umumnya, namun turnamen tersebut juga turut mempelopori genre competitive gaming untuk dapat meraih pengakuan tertinggi sebagai bagian dari olahraga.

IEM PyeongChang yang berlangsung tepat sebelum pertandingan Olimpiade Musim Dingin, merupakan kesempatan terbaik yang dapat dicapai esports dengan mendemonstrasikannya sebagai olahraga di acara Olympic. Pada tulisan ini, Jeffrey Clark adalah seorang direktur bagian strategi dan perencanaan dalam VR, Esports dan Gaming Group, sebuah divisi dari Intel’s Client Compute Group. Jeffrey Clark mengatakan kepada The Esports Observer  bahwa perusahannya lebih fokus untuk menghasilkan acara kelas dunia yang berkualitas tinggi daripada menempatkan esports didalamnya.

 “Salah satu keuntungan yang kita miliki adalah dengan menjadi seorang aktor yang netral dalam ekosistem esports. Semacam Switzerland di industri esports.”

“Kami ingin memanfaatkan kesempatan ini sebagai platform untuk menghadirkan pengalaman, kehebohan dan energi esports kepada khalayak ramai yang lebih luas,” katanya.

Intel telah masuk sebagai mitra International Olympic Committee (IOC), dalam sebuah kesepakatan yang dijalankan hingga 2024. Meskipun kemitraan tersebut berfokus pada integrasi 5G, virtual reality, dan platform 360 untuk menyiarkan acara olahraga, sejarah si-pembuat chip untuk video games menyiratkan bahwa esports sepertinya tidak akan tertinggal.

“Kami sedang mengamati cara orang terlibat dan berinteraksi dengan sports. Sangat berbeda antara sekarang dengan puluhan, atau bahkan beberapa tahun lalu,” kata Clark. “Menjadi sponsor memberikan platform formal untuk melibatkan esports dalam diskusi, dan membicarakan kesempatan esports di masa depan.”

Tahun lalu, IOC mengakui bahwa esports ‘dapat dianggap sebagai kegiatan olahraga’ dalam pernyataan yang disusun secara hati-hati. Hingga kini, Clark menyadari bahwa Intel tidak memiliki rencana khusus untuk mempromosikan esports dengan IOC, dan juga tidak memiliki rencana pasti untuk membuat esports untuk dapat masuk sebagai olahraga resmi. Namun dia juga menyadari bahwa IOC telah menyatakan ketertarikannya dan dia telah menyaksikan kehebohan seputar pertunjukan turnamen di PyeongChang.

“Hanya melihat energi yang ada saja sudah disukai mereka. Keterlibatan online dari penonton dan penggemar memiliki dinamika yang berbeda dibandingkan ketika hanya streaming game secara langsung dan mendapat umpan balik dari penonton.”

Intel IEM PyeongChang via esportsobserver.com
Intel IEM PyeongChang via esportsobserver.com

Setelah acara berlangsung, beberapa outlet berita melaporkan skeptisisme dari atlet dan olahragawan terhadap gagasan tentang menggabungkan StarCraft dengan bermain ski, atau League of Legends dengan olahraga. Clark mengakui sudut pandang tersebut, namun menyatakan bahwa nilai hiburannya sudah tidak diragukan lagi.

Sport elektronik tersebut membutuhkan disiplin dan latihan yang ketat. Persaingannya intens, bahkan sangat ganas.”

Sport elektronik tersebut membutuhkan disiplin dan latihan yang ketat. Persaingannya intens, bahkan sangat ganas. Kami ingin membawa sensasi itu kepada target penonton baru, dan mendorong mereka untuk menghargai strategi real-time yang sedang terjadi di sini, hal tersebut membutuhkan pengambilan keputusan dan refleks yang sangat cepat yang perlu dilatih.”

Bahkan tanpa pengakuan dari Olympic, IEM PyeongChang akan tetap menjadi poin penting dalam sejarah esports untuk alasan yang sama sekali berbeda. Sasha “Scarlett” Hostyn mengangkat tropi kompetisi sebagai wanita pertama yang  memenangkan turnamen major StarCraft II – kemenangan yang diperoleh dengan mengalahkan Kim “sOs” Yoo Jin yang telah dua kali menjadi juara dunia.

“Saya rasa kemenangan Scarlett bagus untuk visibilitas esports terhadap khalayak mainstream termasuk wanita,” kata Clark. Dia juga menyinggung fakta bahwa Scarlett berasal dari Kanada dan merupakan orang Amerika Utara pertama yang berhasil memenangkan StarCraft di tanah Korea Selatan. Korea dikenal mendominasi beberapa gelar kompetitif permainan tersebut  dan permainan tersebut masih dipandang sebagai olahraga nasional.

Meskipun tidak ada rencana nyata untuk memunculkan esports pada Tokyo Summer Olympic di tahun 2020, Clark menyatakan bahwa dia ingin acara selanjutnya di masa depan menampilkan dinamika penonton LIVE secara langsung pada momen prestisius seperti The International atau League of Legends World Championship – sebagaimana IEM Pyeongchang ditutup kepada penonton.

Selain kemitraan jangka panjang melalui acara-acara ESL, Intel juga merupakan sponsor multi tahun untuk Overwatch League, dan bahkan tim League of Legends Tiongkok, EDward Gaming. Dalam hal memanfaatkan hubungan yang luas untuk memberikan penikmat Olympic turnamen multi-titel, Clark mengatakan bahwa itu semua adalah tentang relevansi.

“Salah satu keuntungan yang kita miliki adalah dengan menjadi seorang aktor yang netral dalam ekosistem esports. Semacam Switzerland di industri esports. Kami dapat bekerja dengan semua pemain kunci, mulai dari game developers, penerbit, hingga penyelenggara turnamen esports, ESL maupun Valve.”


Tulisan ini merupakan terjemahan dari esportsobserver.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here