KSV eSports, sebuah perusahaan esports asal Korea Selatan yang saat ini dipimpin oleh jebolan Sillicon Valley, Kevin Chou, memiliki divisi profesional untuk divisi Overwatch yang bernama Seoul Dynasty. Saat ini, KSV eSports sedang berusaha memperjuangkan hak franchise mereka di Overwatch League (OWL), sebuah pertandingan esports kelas berat yang di dalamnya terdapat pebisnis mashur seperti Robert Kraft dan Kroenkes.

“Kami bukan sedang berusaha belajar bagaimana menyatukan data ke bisnis kami, hal itu akan terjadi secara alami dari cara kami menjalankannya.”

“Salah satu keuntungan jika memiliki mindset dari Silicon Valley adalah bahwa semua orang selalu berusaha untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Menurut saya itu mungkin adalah aset terbesar saya untuk masuk ke bidang ownership.” Mindset itu dan ditemani kegemaran akan teknologi.CEO dan co-founder, Kevin Chou, percaya kalau dia memiliki latar belakang startup yyang membuatnya menonjol di antara saingannya dan ini bukan karena kantor trendy-nya yang sering disorot oleh media. Dia mengatakan “dalam pandangan saya, keunggulan memiliki fasilitas yang bagus tidak menjamin terciptanya budaya yang baik dalam perusahaan.”

Kevin Chou dari KSV eSports via esportsobserver.com
Kevin Chou dari KSV eSports via esportsobserver.com

Selaku co-founder dan mantan CEO perusahaan Kabam, Chou mengungkapkan bahwa perusahaan tersebut adalah salah satu perusahaan awal yang membangun sendiri jaringan penyimpanan big data hadoop cluster­. “”Kami bukan sedang berusaha belajar bagaimana menyatukan data ke bisnis kami, hal itu akan terjadi secara alami dari cara kami menjalankannya.”

Kabam yang didirikan pada tahun 2006, tidak lama setelah resesi ekonomi. Setelah melewati banyak masa up-and-down, Chou menjual perusahaannya  kepada Netmarble tahun lalu yang dikabarkan senilai 700-800 juta dolar. Setelah 1 tahun merenungkan kejadian ini, Chou yang kala itu sedang liburan di Hawaii, menyadari bahwa dia telah siap untuk kembali ‘berpetualang’ di ‘laut lepas’.

“Liburan saya sangat memuaskan. Saya kembali merasa penuh energi,” kata Chou. “Saya mengirim pesan kepada Nate Nanzer, menanyakan tentang Overwatch League. Saya sudah membaca tentang itu sedikit, dan Nate merespons “datang saja kemari. Kita bisa membahasnya. Saat ini kami sedang berada di tengah sebuah proses, dan ini adalah suatu hal yang bagus jika kamu tertarik intuk membeli sebuah franchise.

Sebelumnya, Chou telah familiar dengan Nate ketika bekerja di firma riset Magid, yang kini telah menjadi komisaris untuk Overwatch League. Kabam sendiri dulunya telah melihat esports sebagai suatu potensi yang berdekatan dengan bidangnya. Chou juga pernah sekali berdiskusi dengan pemilik Team Curse dan Team Vulcun. “Saya sebenarnya belum pernah mengambil kesempatan seperti ini. Dulu saya menjalankan perusahaan game publishing dan hal ini tentu akan membuat perselisihan.”

KSV eSports tidak dibentuk dengan adanya investasi luar. Sebaliknya, kebanyakan saham dimiliki oleh mantan co-owner dari perusahaan Kabam, termasuk General Manager Kabam Tiongkok yaitu Michael Li, dan juga mantan COO Kent Wakeford. “Dari dulu kami semua telah melakukan ini dengan baik,” ungkap Chou. “Kami tidak punya uang sebanyak Bob Kraft atau Stan Kroenke, tapi kami merasa kami bisa memulai ini dengan usaha dan uang yang kami miliki saja.”

Foto Kevin Chou bersama pemain Lunatic-Hai, sebelum menandatangani Seoul Dynasty via esportsobserver.com
Foto Kevin Chou bersama pemain Lunatic-Hai, sebelum menandatangani Seoul Dynasty via esportsobserver.com

Perusahaan ini berada di barisan depan esports saat berlangsungnya periode free agency di League of Legends, dimana KSV eSports membeli seluruh roster tim Samsung Galaxy. Setelah mengeluarkan pengumuman, Chou mengatakan bahwa perusahaannya akan menghentikan budaya bagaimana organisasi esports selama ini dijalankan di negara mereka.

“Amanat dan juga hal yang membuat saya senang adalah mengembangkan pasar untuk Overwatch League di Seoul…”

“Pasar esports di Korea sangat terbelah dua,” kata Chou. “Ada konglomerat besar yang telah mengelola esports sejak lama dan sangat lancar. Mereka memiliki dana yang besar untuk esports dan membayar pemain dengan gaji yang sangat bagus. Namun, hal ini tidak dipandang seperti sebuah bisnis, melainkan hanya bagian dari marketing bisnis, dimana ini hanya sekadar biaya pengeluaran wajib bagi mereka.

Sejarah mengapa hal ini terjadi dapat dilacak hingga masa tepat berakhirnya perang Korea. Samsung dan konglomerat lokal lainnya seperti Hyundai dan LG, dibanjiri dengan dukungan finansial dan juga perlindungan dari presiden Park Chung-he. Pada saat itu, mereka sangat ingin dapat menyaingi pertumbuhan ekonomi Jepang.

Konglomerat yang disebut dengan chaebols sekarang menjalankan bisnis olahraganya sendiri, termasuk juga esports, namun tidak seperti bisnis tapi lebih seperti investasi ke masyarakat.

“Di sisi lain, terdapat entrepreneur yang biasanya berasal dari mantan pemain pro,” kata Chou. “Mereka mengumpulkan uang mereka sendiri, mengambil banyak resiko, dan berjuang sekuat tenaga hanya untuk potongan kecil, karena perusahaan besar yang seharusnya menjadi sponsor dan partner justru punya tim esports–nya masing masing.” Sebagai pendatang baru ke panggung esports korea, Chou percaya kalau KSV eSports bisa memulai gelombang baru untuk para partner global, media dan perusahaan teknologi.

“Jika Korea tidak membuka diri untuk pasar global esports dan mencari cara untuk dapat memimpin di tingkat global, maka Korea akan tertinggal.”

Walaupun pemandangan esports di Korea terlihat picik, sangat menarik untuk melihat apa yang terjadi pada Overwatch League yang seharusnya menjadi pertandingan global. London Spitfire yang dimiliki oleh Cloud9, membanggakan anggota timnya yang hanya terdiri dari orang Korea, sama halnya dengan New York Excelsior. Chou menyatakan bahwa dia sendiri bukan penduduk asli Korea, dan setiap pemilik tim pada dasarnya akan mengambil langkah tersendiri untuk membentuk pasar lokalnya.

“Mindset dari Silicon Valley adalah bahwa semua orang selalu berusaha untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.”

“Tugas saya bukanlah untuk memberitahu bagaimana orang lain menjalankan bisnisnya.” “Aturan hidup dan hal yang membuat saya senang adalah mengembangkan pasar Seoul untuk Overwatch League, dan saya bisa menggapainya dengan komposisi tim dan pemain yang hanya terdiri dari orang Korea.”

Kunci penting dari pasar yang berkembang, seperti yang telah ditetapkan oleh Blizzard Entertainment, agar setiap tim Overwatch dapat membangun panggung pertunjukannya sendiri di musim ketiga nanti. Chou menyampaikan kalau dia tidak mempunya gambaran sempurna bagaimana wujud panggung untuk Seoul Dynasty ke depannya, akan tetapi dia sangat takjub pada Blizzard Arena di Los Angeles, dimana desain arsitekturnya benar-benar mengelilingi penonton dan ada LED besar untuk menunjukkan kepada para penonton kondisi dari payload, control points, dan sebagainya.

“Saya suka interaktivitas seperti itu,” katanya. “Sensasi ini membuatmu tenggelam dalam pengalaman luar biasa yang tidak pernah saya rasakan ketika menyaksikan pertandingan di rumah.”


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di esportsobserver.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here