DreamHack, penyelenggara festival gaming asal Swedia, memiliki sebuah cerita bersejarah dalam esports. Penonton DreamHack pada tahun 2015 menyaksikan tim Counter-Strike: Global Offensive milik Luminosity Gaming, sebuah organisasi esports asal Amerika Utara, yang memberikan performa paling bersejarah di loser’s bracket. Sementara itu, League of Legends World Championships pertama kali diadakan di DreamHack Summer 2011.

Dreamhack Summer 2011 via pack4dreamhack.nl
Dreamhack Summer 2011 via pack4dreamhack.nl

Meski demikian, acara-acara DreamHack lebih dari sekedar turnamen esports belaka. Terdapat juga festival, LAN party skala besar yang disertai dengan konser, kontes cosplay dan hanya sedikit acara esports. Dalam sebuah kesempatan wawancara yang langka, Presiden sekaligus CEO DreamHack, Marcus Lindmark mengatakan kepada The Esports Observer untuk meliput perjalanannya yang berawal dari seorang relawan di DreamHack hingga menjadi seorang pemegang masa depan perusahaan.

Berawal dari seorang sukarelawan hingga menjadi kepala perusahaan

Bahkan di masa ia seorang pelajar, Lindmark sudah mengasah kemampuan yang mengantarkannya pada DreamHack. Dia mengatakan pada The Esports Observer bahwa dia memulai awal karirnya dengan melamar pada sebuah program insentif pemerintahan lokal, ia berusaha meningkatkan pemasukan dengan mengadakan acara ‘bring you own computer’ bersama kerabatnya. Setelah selesai menyelenggarakan sebuah permainan lokal dan acara musik, Lindmark terhubung dengan DreamHack pada saat pengerjaan film dokumentasi untuk pembangunan sebuah sekolah.

Bagi Lindmark sendiri, DreamHack lebih dari sekedar acara untuk para gamer setia, DreamHack juga merupakan sebuah ajang perayaan budaya era digital.

Sebagai seorang gamer, Lindmark berniat untuk ikut terlibat dengan DreamHack, dan mengawalinya dengan menjadi seorang sukarelawan pengutip karcis. Alhasil, Lindmark mampu mendaki karirnya bahkan sebelum bergabung penuh dengan perusahaan pada tahun 2007, dengan jabatan sebagai Event Manager. “Tugas pertama saya adalah menjalankan liga esports nasional,” ucap Lindmark. “Kami menjelajahi Finlandia, Norwegia, Denmark, dan juga Swedia serta beberapa acara CS:GO yang sudah terorganisir.”

Lindmark terus mendapat lebih banyak tanggung jawab dari perusahaan hingga pada tahun 2014, masa perdebatan internal perusahaan yang berlanjut menimbulkan perubahan signifikan. CEO terdahulu, yaitu Robert Ohlen digantikan dari posisinya sebulan sebelum DreamHack Winter diadakan.

“Kami hanya perlu memikirkan bagaimana cara kami untuk maju…Kami merasa ‘Baiklah, sekarang saatnya kita melakukan perubahan.’ ucap Lindmark. Kami menyarankan hal tersebut kepada dewan serta pengurus sebelumnya, dan hasil suara menyatakan bahwa ‘Marcus, Andalah orang yang tepat untuk melakukannya’, dan syukurnya saya masih berada disini selama 11 tahun. Saya masih terobsesi dan termotivasi untuk memajukan perusahaan.”

Membangun Bisnis

Dalam beberapa tahun belakangan, DreamHack telah menandatangani kesepakatan dengan beberapa mitra utama, termasuk di antaranya Bud Light, Monster Energy, dan juga Corsair­­. Hubungan kemitraan dengan Corsair bahkan berkembang menjadi kesepakatan kerjasama 2 tahun untuk berbagai acara esports DreamHack. Baru-baru ini, DreamHack juga memperbaharui kerjasama dengan Monster Energy hingga 2019. Bagi Lindmark, mitra-mitra ini lebih dari sekedar penyokong pendapatan.

Monster Energy via atlanta.dreamhack.com
Monster Energy via atlanta.dreamhack.com

“Jika Anda melihat kembali sejarah DreamHack…pasti selalu merupakan perjalanan panjang. Semuanya tentang bagaimana kami dapat berkembang bersama. Sebagaimana perjanjian Corsair yang kami miliki saat ini, bukan sekedar kesepakan setahun saja, tetapi harapan untuk masa depan—bagaimana kami dapat mengembangkan perusahaan bersama-sama?”

“…Syukurnya Saya masih berada disini selama 11 tahun ini. Saya masih terobsesi dan termotivasi untuk memajukan perusahaan.”

Lindmark menjelaskan bahwa filosofi yang sama juga diterapkan pada perusahaan yang mengakuisisi, Modern Times Group (MTG) pada tahun 2015. “Bagi kami, bergabung bersama MTG merupakan upaya menciptakan keseimbangan dan menemukan rekan yang paling tepat untuk mampu menyelaraskan resiko-resiko dari pengembangan acara juga dalam hal penting lainnya. MTG juga memperoleh mayoritas saham di ESL pada tahun yang sama.

Baca juga  Eksekutif Senior Esports Meluncurkan Firma Konsultan Komunikasi: The Story Mob

Rencana jangka panjang ini memperbolehkan DreamHack untuk dapat tetap berkembang dan menjalankan rancangan masa depan. Perusahaan sedang memperluas jangkauan untuk mampu mencapai benua lain pada 2019 dan berusaha menjadikan DreamHack sebuah brand untuk merchandising.

Bagi Lindmark sendiri, DreamHack lebih dari sekedar acara untuk para gamer setia, DreamHack juga merupakan sebuah ajang perayaan budaya era digital. Beliau mengatakan bahwa sekitar 30 persen dari penonton bahkan tidak menonton isi acara esports. Mereka hadir hanya untuk acara musik, LAN party, kontes kosplay, serta untuk merasakan atmosfer gaming. Orang-orang secara khusus ingin bertemu di tempat dengan teman karib mereka.

Keberagaman ini adalah kunci strategi Lindmark bagi DreamHack. Lindmark ingin untuk tetap dapat mengamati dan mengikuti tren, mampu mengikuti arus selera para gamer. “Kami selalu berusaha mencari tahu, begitulah cara kami berkembang dengan cerdas dan menjalankan bisnis. Bagaimana kelanjutannya, waktu yang akan menjawab.”


Tulisan ini merupakan terjemahan dari esportsosbserver.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here